CERPEN

Monday, February 25, 2019

Kisah Sebuah Dongeng Oleh M.Z. Billal




            Ini kisah yang umum. Tapi rasanya kau perlu tahu tentang cerita yang akan kusampaikan kali ini. Agar kau mengerti tentang sesuatu yang bisa kau pahami ketika usai membacanya.

            Beginilah kisahnya…

Di negeri yang jauh, di atas bukit berangin yang hanya beberapa pohon peneduh tumbuh di puncaknya, hidup sebuah keluarga kecil yang terdiri dari seorang wanita dewasa berparas cantik yang berperan sebagai ibu sekaligus orang tua tunggal dan tiga orang anak yang masing-masing bernama Kal, Maw, dan Herok.

Kal adalah seorang pemuda berwajah tampan. Ia paling tua. Umurnya kira-kira enam belas tahun. Ia bekerja di kebun sayur yang ia olah sendiri bersama adik bungsunya. Sementara Maw adalah gadis yang jelita. Ia anak kedua. Umurnya sekitar empat belas tahun. Ialah yang membantu pekerjaan ibunya di rumah dan mencari kayu bakar ketika Kal pergi ke desa di kaki bukit untuk berjualan sayuran hasil kebun di pekarangan rumah bersama adiknya, Herok.

Herok sendiri adalah seorang bocah lelaki yang beranjak remaja. Ia anak terakhir atau yang ketiga. Ia berumur dua belas tahun. Sebetulnya ia adalah anak yang manja dan paling disayang. Tanda lahir berbentuk bulan sabit pada leher sebelah kanannya adalah ciri khas yang dimilikinya. Orang-orang selalu memuji tanda lahir yang unik tersebut. Namun karena hidup keluarga kecil ini mendadak berubah ketika ayah yang menjadi kepala keluarga meninggal dunia tersebab sakit parah, maka ia harus ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Beruntung kakaknya, Kal, adalah kakak yang baik. Ia mengajak adiknya itu untuk bekerja sama mengolah tanah kosong. Hingga kemudian keduanya berhasil menjadi petani yang menjual banyak sayuran di pasar desa di kaki bukit, dan mendapat pujian dari warga di sana karena sayuran yang mereka jual segar dan menyehatkan.

Namun pada suatu pagi yang mendung, Kal sangat murka. Ia berteriak, marah, dan bersumpah serapah di luar rumah. Terdengar sesekali ia meratap seperti hendak menangis. Membuat ibu beserta kedua adiknya yang baru saja selesai sarapan berhambur ke luar rumah. Mereka ingin tahu apa yang telah membuat Kal begitu marah juga sedih.

“Ada apa, Kal?” tanya ibunya.

“Lihatlah, Bu!” Kal menunjuk ke arah kebun sayurnya yang porak-poranda, lalu bersimpuh karena tak kuasa menyaksikan pemandangan kebun sayurnya pagi itu.

Ibunya terperangah dan langsung membekap mulut dengan kedua tangannya. Sementara itu Maw yang spontan memeluk ibunya, Herok malah berlari sambil menjerit-jerit ke arah kebun sayur kesayangannya, meremas-remas rambutnya yang ikal seperti orang gila.

“Tidaaaaaak!” teriak Herok dalam tangisnya. “Siapa yang telah melakukan ini? Kenapa begitu tega? Kejaaaaam!”

Kal masih tak bisa berkata apa-apa. Ia masih membatu dalam simpuhnya. Matanya terus tertumbuk hampa pada kebun sayur miliknya yang kini tak lagi serupa kebun. Ia juga membiarkan Herok yang pada akhirnya ikut marah dan mengeluarkan sumpah serapah.  Ia tampak seperti pasrah dan lemah, namun dalam hatinya membara api kemarahan yang besar sampai kepada retina matanya yang cokelat. Di matanya tersulut api murka yang menyala terang meski kesedihan yang sedingin es juga sama beratnya menggantung di sana. Ia sedih dan bingung, entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sebab sayuran tak tumbuh begitu saja seperti sekali lambaian tangan para peri.

Kal terus memikirkan bagian itu. Hingga kemudian ia bergegas bangkit dari simpuhnya ketika Herok berhenti memaki dan kini malah meneriaki namanya berkali-kali seperti ingin memberitahunya sesuatu.

“Kal! Kal! Kemarilah, lihat sini! Aku menemukan sesuatu. Ini sangat aneh!”
Kal mempercepat langkahnya, disusul ibu dan adik perempuannnya, Maw, dari belakang. Dan ketika ia telah berada di sisi Herok, matanya langsung nyalang pada sesuatu yang ditunjuk adiknya itu. Ia mellihat begitu banyak lubang besar dan lebar yang bertebaran di dalam areal kebun, yang jika diperhatikan lebih mirip jejak kaki yang aneh. Jejak yang sebelumnya tidak pernah ada di bukit berangin itu.

“Jejak apa itu, Kal?” tanya Maw, ikut menelusuri permukaan jejak-jejak aneh tersebut.

“Itu jejak kaki binatang buas,” sahut Herok menduga dengan sangat yakin. “Sekarang kita dalam bahaya!”

“Binatang buas apa?” balas Maw balik bertanya. “Harimau tak mungkin memorak-porandakan kebun sayuran. Kalau pun itu babi hutan, ukuran kakinya tak mungkin sebesar itu!”

Kakak beradik itu pun terus menyelidiki jejak-jejak kaki aneh tersebut. Maw dan Herok mengeluarkan pendapatnya masing-masing, berganti-ganti, berusaha menemukan jawaban yang paling masuk akal. Sementara itu, Kal berusaha tetap tenang seraya menyusuri jejak yang mengular sampai ke tepi bukit bagian Timur yang paling curam.

“Jejak itu bermula dari sini!” seru Kal. “Aku menduga ini bukan binatang bahkan yang paling buas sekali pun. Tak ada binatang yang bisa mendaki tepi bukit yang curam ini kecuali kawanan kera.”

“Lalu apa?” tanya Maw dan Herok, teriak bersamaan sambil berlari menghampiri Kal di tepi bukit. Meninggalkan ibu mereka yang berdiri tanpa bicara namun wajahnya tampak begitu cemas di dekat kebun yang hancur. “Lalu apa, Kal?” ulang Maw.

“Ini makhluk yang tak wajar,” desis Kal memberitahu kedua adiknya. “Ini belum pernah terjadi. Memang bukan binatang buas, tapi aku setuju yang dikatakan Herok, kalau kita dalam bahaya. Bahkan bukan hanya kita. Para penduduk desa di kaki bukit pun juga dalam bahaya.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Kal?” Maw buru-buru bertanya. “Apa kita harus turun untuk memberitahu para penduduk?”

“Kupikir demikian. Lagi pula aku juga harus memberitahu mereka bahwa dalam beberapa waktu aku tak bisa menjual sayuran kepada mereka.” Wajah Kal berubah sedih.

“Kalau begitu, ayo!” Herok tampak begitu semangat untuk bergegas turun ke kaki bukit. Sepertinya ia tak sabar ingin bertemu para pelanggan yang biasa memuji kebaikannya.

“Baiklah!”

Lalu ketiga kakak-beradik tersebut berlari ke arah ibu mereka yang semakin cemas dengan tangan yang tampak saling meremas. Mereka hendak meminta izin turun ke kaki bukit.

“Jangan bilang kalau kalian akan turun ke kaki bukit!” sergah ibu mereka. “Aku tidak akan mengizinkannya!”

“Kenapa, Bu?” tanya Maw kecewa. “Ini masalah darurat!”

“Tidak ada yang darurat,” potong ibu, menarik napas untuk melonggarkan dadanya yang terasa sesak. “Dan tidak ada yang boleh turun. Sebaiknya kita terus berada di dalam rumah.”

Kal, Maw, dan Herok terdiam. Ketiganya paling tidak bisa membantah perintah ibu mereka. Karena mereka tak ingin membuat sang ibu menjadi lebih cemas lagi. Bagaimana pun juga jarak desa di kaki bukit lumayan jauh. Mungkin ibu cemas jika makhluk dengan jejak besar tersebut sedang berkeliaran di sekitar bukit dan bisa saja sewaktu-waktu menerkam mereka ketika menuju desa.

“Percayalah, Nak. Yang terpenting adalah kita saling menjaga. Ibu ingin kita selalu bersama.”

Mereka lalu saling memeluk. Udara pagi yang dingin membuat mereka khawatir. Namun sang ibu menguatkan mereka. Bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hingga malam hari pun tiba. Udara semakin dingin. Mereka berkumpul di meja makan. Namun hanya ada nasi dan sup sederhana dari panen hasil kemarin yang bisa disantap. Mengingat kebun sayur Kal telah hancur lebur. Tak ada yang bisa diambil sedikit pun dari sana.

“Semuanya akan baik-baik saja,” sekali lagi sang ibu menasihati diikuti anggukan kepala Maw dan Herok. Sementara Kal hanya tersenyum hambar.

Mereka menyudahi makan malam. Berbincang sebentar lalu pergi ke kamar tidur masing-masing. Maw sekamar dengan ibunya sementara Kal bersama Herok. Entah kenapa, bagi Herok, malam ini adalah yang paling menakutkan. Ia mengulang cerita bersama Kal tentang jejak kaki besar yang menghancurkan kebun sayur mereka. Ia merebahkan tubuhnya lebih dekat ke tubuh Kal. Bahkan ia mereka-reka cerita sesuai nalarnya sendiri. Membuat suasana semakin mencekam.

“Sudahlah. Lebih baik kita tidur. Ibu bilang semuanya akan baik-baik saja.”

“Tapi Kal, aku….”

Entah kenapa, belum sempat Herok menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Kal melompat dari tidurnya dan mendaratkan telunjuknya ke bibir Herok.  Menyuruhnya diam sementara matanya menjadi waspada.

“Ada apa?” desis Herok. “Kau membuatku kaget.”

“Aku mendengar sesuatu di luar. Seperti suara geraman harimau dan desis ular. Dengarkan!”

“Sebaiknya kita ke ibu sekarang.” Herok mulai merengek ketika ia juga mendengar suara itu.

 “Pelan-pelan,” kata Kal.

Baru saja mereka berjinjit, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun, yang terjadi berikutnya benar-benar tidak pernah mereka sangka.

Dinding kamar yang terbuat dari kayu keras didobrak paksa oleh sosok gelap bertubuh besar, hingga hancur dan menimbulkan suara berisik. Sosok tersebut berkepala seperti kambing jantan dengan sorot merah darah yang bersinar dan tubuh kekar berbulu. Ukuran kakinya benar-benar besar dengan tiga jari berkuku tajam. Membuat Kal dan Herok berteriak sekeras mungkin.

“IBUUUUU!!!”

Namun belum sempat keduanya berlari ke luar kamar, makhluk tersebut menangkap Kal dan melemparkannya ke sisi dinding yang lain. Membuat Kal mengeluarkan darah dari mulutnya. Sementara pada waktu bersamaan ibu muncul dan meraih Herok untuk menjauh dari makhluk tersebut.

“Berhenti!” teriak Ibu pada makhluk besar tersebut untuk menjaga kedua anaknya yang lain di belakang tubuhnya.

Makhluk tersebut menghentikan aksinya. Ia memandang tajam ke arah ibu. Dan tiba-tiba saja ia berbicara dengan geraman dan desisan. Membuat Kal, Maw, dan Herok terkejut.

“Ini sudah waktunya. Tak ada waktu. Jika tidak, kedua anakmu yang lain akan mati!”

“Tak ada yang mati di sini, mahkluk jelek!” seru Kal seraya mengacungkan belati yang biasa ia bawa. Namun secepat itu pula raksasa tersebut berhambur ke arah Kal dan mencekik lehernya kuat-kuat.

“Tak ada waktu, Hena! Sekarang saatnya.”

Ibu tak kuasa melihat Kal sekarat dalam cekikan si raksasa buas. Namun ia semakin cemas ketika mendapat pilihan rumit dari makhluk mengerikan itu. Pilihan yang sebetulanya membuat tiga anaknya bertanya-tanya. Ia berusaha memegang sekuat mungkin tangan Maw dan Herok. Tak ingin dilepaskan. Namun semuanya berubah ketika si makhluk tiba-tiba saja menjelma menjadi seorang laki-laki yang mereka kenal. Makhluk tersebut berubah menjadi ayah mereka. Laki-laki yang paling mereka rindukan.

“Ayah?” lirih Kal tak percaya dalam kesakitannya yang luar biasa ketika ia lepas dari cekikan si makhluk buas.

Makhluk raksasa yang kini menjelma menjadi ayah mereka terdiam, tak berkata sepatah kata pun.

“Bagaimana mungkin?” tanya Maw mendelik membekap mulutnya.

“Bukan, Sayang. Dia bukan ayah kalian,” kata Ibu mulai menjelaskan sambil menangis. “ Dia adalah makhluk yang membalas dendam pada ayah kalian yang asli. Kalian tidak pernah tahu cerita ini. Tapi sungguh, ayah kalian adalah pemburu yang hebat. Namun ketika itu ia salah. Ia pikir telah berhasil merobohkan tiga ekor rusa berbulu hitam sekaligus. Tapi ternyata ia telah membunuh istri beserta dua anak dari makhluk ini. Hingga akhirnya ia datang untuk membunuh ayah kalian dan mengawini ibu yang saat itu tengah mengandung Herok.” Ibu berhenti sejenak. Air matanya mengalir deras namun berwarna hitam. Lalu mulai berkata lagi. “Demi melindungi kalian ibu telah berikrar akan mengabdikan diri untuk selamanya, ketika Herok berumur dua belas tahun, atau dia akan membawa Herok menjadi anaknya. Karena bagaimana pun dalam tubuh Herok mengalir darahnya. Tanda lahir di leher Herok itu dibuat olehnya”

“Tidak, Bu!” seru Herok menangis. “Tidak akan ada yang pergi. Kalau pun ada yang pergi, orang itu adalah aku. Aku hampir membenci situasi saat ini.”

Seketika itu juga makhluk tersebut kembali ke wujudnya yang asli sambil mendesis, “tak ada waktu lagi, Hena!”

“Tidak Herok sayang. Kau tidak layak menerima ini,” kata ibu sambil membelai wajah Herok dan Maw bergantian lalu meraih tubuh Kal ke dalam pelukannya. “Kal akan menjaga kalian dengan baik. Maw akan menjadi wanita yang mencintai rumah ini dengan penuh perasaan. Dan dirimu, Herok sayang, kau akan menyelamatkan ibu suatu hari nanti. Jangan biarkan penduduk desa di kaki bukit tahu soal ini. Ibu menyayangi kalian.”

Tak lama setelah itu, tiba-tiba wajah dan tubuh ibu berubah diiringi lolongan keras yang menyayat hati. Paras yang menawan itu musnah seketika dalam bentuk yang sangat mengerikan dengan sorot mata merah darah dan tubuh besar berbulu. Lalu ibu segera berlari keluar, menembus dinding kamar yang jebol, mengikuti makhluk besar yang telah berlari lebih dahulu sambil melolong, tanpa sempat Kal, Maw, dan Herok mengucapkan selamat tinggal dan menangis atas perpisahan paling mengerikan itu.

Mereka membeku dalam dinginnya malam. Tenggorokan mereka seperti dipenggal, bahkan air mata tak lagi terasa hangat. Hanya pelukan yang diberikan Kal kepada kedua adiknya itu yang menghangatkan suasana yang semakin kelam.

Selesai.



            Sekarang kau telah menjadi saksi bagi kisah ini. Sungguh, ini sebuah pelanggaran. Namun aku hanya ingin memberitahumu bila nanti kau melihat sepasang makhluk, atau mungkin kini mereka beranak-pinak, yang besar dengan wajah kambing dengan sorot mata merah darah dan jejak kaki sangat besar. Kuharap kau tidak lekas membunuhnya. Karena dimana pun itu, di sanalah ibuku berada, menunggu untuk kuselamatkan.

***

images by: https://i3.wp.com/ae01.alicdn.com/kf/HTB1K5vBMpXXXXX7XVXXq6xXFXXX9/Tangan-Dicat-Gaya-Eropa-Rumah-Hutan-Landscape-Kanvas-Lukisan-Minyak-Realis-Lukisan-Dinding-Gambar-Seni-Lukisan.jpg?crop=6,3,950,600&quality=3886 


Wednesday, January 30, 2019

PUISI-PUISI M.Z. BILLAL, Rakyat Sumbar 20 Januari 2019



PUISI-PUISI M.Z. BILLAL
Rakyat Sumbar, 20 Januari 2019

Laron

mencintaimu
seperti kelana laron-laron

rindu kepada cahaya yang tumpah
meski lampu jalan mendusta
dan menjadikan sayapnya patah
pada malam yang basah
tak gentar maut datang dari panjangnya lidah
kodok dan cicak yang gairah
dalam jamuan pesta


Lirik, Desember 2018



Harta Karun
: kepada zain aksara shirazy

harta karunku hanyalah kata-kata
yang purba dalam cerita dan sajak
tiada bertuan pada siapapun
selain hanya padaku
serta buku-buku di rak kayu yang bertambah
abu-abu dalam debu
bukan pula berupa tumpukan uang
dalam brankas atau berlian di peti
lapis beludru
hanya itu

satu waktu nanti
kau akan tahu
perihal harta karun yang abadi itu


Lirik, Desember 2018


Sepenggal Puisi yang Kutulis di Rabu Malam Bulan Desember


ketika puisi ini terlahir
aku sedang mengingatmu
sambil menyusu pada cangkir porselen
berisi kopi putih bergranule guguran gemintang
dan ketubannya yang pecah menyisakan noda
sebagai kenang-kenangan di sampul sebuah buku
yang baru saja kupinjam dari salah seorang temanku:

“di rabu malam yang pekat ini,
aku hendak membakar tubuhku,
jadi penerang langkah kakimu, lalu menyusup
menggantikan hangatnya mantel bulumu
tanpa pernah jadi abu,
yang kerap ditabur ke hilir
sungai pilu dan terjun
dari dagumu.”


Lirik, Desember 2018


Baniu

jadilah seperti baniu yang kukuh
dari pohon peneduh
berkelana hingga ke tanah yang jauh
bertemu bibir sungai di hulu
tak gentar parang mencacah rindu


Lirik, Desember 2018



Mengadu Kepada Puisi


ke dalam puisi aku mengadu
segala yang remuk dan tersusun kembali
segala yang tumpah dan yang hangat bercahaya
sebab tuhan selalu berada di sana
duduk di atas tiap-tiap kata yang menjelma singgasana
dan berfirman kepada air mata

tak ada yang perlu kutakutkan kepada dunia
yang datang pagi sekali dan pulang sampai larut
atau yang terbakar dalam kemarahan ataupun
yang hanyut oleh banjir tangisan ataupun
yang luluh lantak oleh badai angkara
tak ada yang patut kucemaskan
semua akan baik-baik saja
seperti yang dikisahkan dalam kitab
gembala doa-doa

ke dalam puisi aku mengadu
mengisahkan tentang ketenangan sungai
yang mengalir dari mata dan bermuara
ke dalam dada
yang hangat ketika bibir surya
mengecup dan mendaraskan kalam semesta


Lirik, Desember 2018

  
Padang Ilalang di Tengah Kota


yang kini sedang mekar di jantung kota
adalah ilalang yang tumbuh di taman wisata.
tiada diinginkan kehadirannya, namun ketenangan
menjelma belaian sepasang tangan
ketika tiupan angin hari cerah menerbangkan
bunga-bunga doanya.

kadang yang tidak kaupedulikan lebih menjadi
teman segala duka
daripada yang senantiasa kaujaga dalam rahasia
namun pada akhirnya meninggalkan racun
yang menyelinap ke dalam akar jantungmu
lalu sebilah keheningan menghunus
dan tatapanmu menjadi sangat hampa
seakan kau masih tidak percaya
bahwa semuanya benar sia-sia.

di sini, di padang ilalang
taman wisata
semua gelisahmu akan terbang tinggi
bersama bunga-bunganya yang ringan
dan angin yang berembus dari selatan
melayang hingga jauh ke seberang
lalu tersemai dengan mandiri
tumbuh menjadi penenang bagi tiap helai hati
yang nyaris gugur di sana


Taman Wisata, Desember 2018




BIODATA


M.Z. Billal, lahir di Lirik, 14 Agustus 1990. Penikmat sastra dan gemar menulis puisi, cerpen, dan cerita anak. Karyanya tergabung dalam banyak antologi. Diantaranya Matahari Sastra Riau (2017), Menderas Sampai Siak (2017), Jejak Cinta di Bumi Raflesia (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Antologi 999: Sehimpun Puisi Penyair Riau (2018), Cerita Anak: Tentang Anya, Anak yang Suka Bertanya (2018). Pernah menulis buku puisi tunggalnya, Catatan Hijrah (2015), dan novel pertamanya berjudul FIASKO (2018). Karyanya telah dimuat di detakpekanbaru.com , Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, Riau Pos, apajake.id, Fajar Makassar, Banjarmasin Post, Magelang Ekspres, Lampung Post. Bergabung dengan Community Pena Terbang ( COMPETER ) dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

Sunday, February 11, 2018

CERPEN M.Z. BILLAL_AGITASI


AGITASI
Oleh: M.Z. Billal

Matanya ditutup sejak ia dibawa paksa ke tempat terbuka itu, sementara kaki dan tangannya diikat kuat. Ia bisa merasakan bebatuan dan angin dingin yang menderanya di tempatnya bersimpuh. Tahu-tahu saja sebuah peluru panas menembus dada kirinya. Tak lantas mati, ia masih bisa mendengar beberapa percakapan meski tak terlalu jelas dengan rasa sakit yang tak terlukiskan di sekujur tubuhnya. Peluru itu meleset beberapa senti dari jantungnya mengenai organ yang lain. Ia tak berteriak, hanya mengerang pelan dan merasakan betapa basahnya piyama yang ia kenakan oleh darahnya sendiri dan merasakan kepalanya berdenyut parah. Ia mulai menggigil. Dan lagi, tahu-tahu sebuah sepatu berbahan keras menendang kuat dada yang lain membuatnya terlempar dan  berguling ke belakang lalu terjun ke bawah. Ia merasakan tubuhnya melayang seperti dalam perut ibunya yang dulu menjadikannya, ia tak bisa melihat, hanya rasa sakit itu mengantarkannya pada ingatan yang perlahan mulai hilang dalam ketiadaan.
***
“Apa harus melulu tentang sensasi, fenomenal, dan keuntungan? Aku mulai bosan dengan keadaan seperti ini. Ini benar-benar sebuah provokasi, sebuah hasutan, menghancurkan negara!” serunya di sela-sela rapat redaksi yang riuh oleh topik-topik panas yang rencananya akan disiarkan di saluran berita televisi.

Semua yang ada di sana memandang Roy yang memberengut. Tampak sekali ia jengkel. Rapat menjadi tegang tak seceria saat mereka berkumpul dan bercanda ketika mengobrol soal program berita di saluran telvisi lain. Seorang di antaranya, sang produser, berdeham untuk mengalihkan emosi Roy dengan berkata, “Rapat hari ini selesai, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Dan… Roy, bukankah sebentar lagi ada Breaking News yang harus kamu bawakan?”

Anggota rapat redaksi mulai ke luar ruangan dengan bisik-bisik yang jelas dapat ditangkap oleh telinga Roy. Sementara ia masih duduk dengan tangan mengepal, di sisinya masih ada produser yang membereskan beberapa lembaran materi rapat.

“Jadi sekarang kita perlu membahas tentang agitasi dan provokasi?” dengus lelaki berkacamata itu kepada Roy yang masih menunduk. “Ada apa denganmu, Roy?” Tanpa perlu mendapat jawaban, ia melangkah ke luar ruangan meninggalkan Roy sendirian.

Hamdan Royenza, adalah seorang presenter berita televisi dari saluran Kontra17, yang tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam menyajikan sebuah berita. Tajam, akurat, berimbang, dan penuh ekspresi serta komentar-komentar pedas dan berani yang keluar dari bibirnya membuat ia semakin digemari khalayak ramai. Rating program berita yang ia bawakan meroket sampai ke puncak tingkatan. Bahkan setahun setelah ia menjadi penyiar berita di saluran televisi tersebut ia berhasil menyabet penghargaan sebagai Presenter Berita Terbaik. Sebuah prestasi yang membanggakan baginya. Selain itu ia juga menjadi pembicara di kampus-kampus sebagai bentuk memotivasi generasi penerus bangsa agar tak salah langkah seperti beberapa pejabat negara yang diberi kuasa malah menyelewengkannya. Ia mengatakan dengan penuh semangat berapi sebagai seorang ahli penyaji berita, “Tidak ada rakyat yang bodoh sejatinya, yang bodoh itu orang-orang yang mengaku bagian dari rakyat!”

Tapi belakangan ini entah kenapa ia merasa bahwa sesuatu mengusik ketenangan hidupnya.  Ia merasa ada yang salah. Ini seperti kecenderungan ketika seseorang berhasil melakukan pencapaian tertinggi dari keinginannya, mulai bosan ingin melakukan hal yang segar agar tak menjemukan. Terlebih ketika ia harus berbicara, memberi komentar pada tiap berita yang ia bawakan. Meski itu yang dinanti oleh pemirsanya, tapi kini ia merasa bahwa melebih-lebihkan sebuah berita juga tak baik untuk sebuah kelangsungan hidup. Baik dari korban pemberitaan juga bagi dirinya yang melakukan pemberitaan. Ini salah satu tantangan- mungkin juga apresiasi- baginya selama di Kontra17, ia menjadi ikon yang menjanjikan untuk masyarakat menonton tayangan berita mereka. Tapi perlu diingat, bahwa tak semua yang ia bicarakan disukai oleh berbagai kalangan. Ada kelompok tertentu yang pasti amat muak dan marah padanya. Dan itu telah terbukti dengan adanya surat ancaman dari seseorang yang dia sengaja  rahasiakan dari semua teman di redaksi. Surat itu ia terima melalui pos langsung ke rumahnya. Isinya membuat bulu kuduk berdiri, menakutkan.  Selain itu, padatnya jadwal, membuat ia sering melupakan seseorang yang menjadi teman hidupnya. Gayatri. Ini semakin membuat ia bosan.

Roy masih bergeming di ruangan itu. Menunduk dan memukul-mukul pelan meja kaca.
***
Ia memutuskan untuk mengambil libur sehari. Meminta rekan yang lain menggantikannya siaran  langsung. Di rumah ia hanya duduk seharian di sofa menonton siaran berita dari channel yang lain. Bahkan dari pagi ia belum mandi. Meski sudah sarapan, istrinya sudah pergi bersama teman-temanya untuk berkumpul dan bergosip, meniru suaminya yang terkenal. Ia tampak bosan dan butuh suasana yang menggembirakan.

Pukul 11 akhirnya istrinya pulang, Roy masih duduk di depan televisi. Wajahnya sama kusutnya sejak ia terbangun.

“Astaga, kamu masih seperti ini, Sayang?” seru istrinya mengerutkan kening sambil tersenyum dan mengempaskan tubuhnya yang sintal di sofa bersamanya. “Mandi sana, sebentar lagi kusiapkan makan siang.”

Tak banyak bicara Roy menuruti kata istrinya.  Tapi sesusai ia bebersih diri ia kembali duduk terkulai di depan televisi. Pandangannya masih kusut mengingat banyaknya tekanan dan surat ancaman yang dirahasiakannya rapat bahkan dari Gayatri, istrinya.

“Sayang, kamu sakit?” tanya istrinya sembari meletakkan punggung tangannya ke pipi Roy. “Tapi semuanya tampak baik-baik saja. Ada apa? Ada masalah, ceritalah padaku. Jangan diam begitu, aku jadi makin tidak ngerti keadaanmu.”

Roy masih diam, ia hanya sekali memandang Gayatri. Selebihnya ia habiskan pada siaran berita televisi yang terus diganti. Kali ini berita di televisi mengangkat berita tentang seorang ketua gangster yang dihakimi massa.

“Hmm…Sayang, bagaimana kalau kita liburan ke pantai saja?” ajak istrinya antusias. “Teman-temanku mengadakan liburan keluarga. Kita bisa kumpul-kumpul dan berpesta. Jadi kamu nggak sekusut ini, kan?”

Roy mendesah. “Sayang, kamu boleh ke mana saja yang kamu inginkan. Tapi aku cuma ingin tidur di rumah dan menikmati rehat yang berharga ini,” jawab Roy. Seketika ia tekan tombol off dan beranjak meninggalkan istrinya yang terbengong.

Gayatri menjadi sensitif dengan sikap suaminya yang jarang di rumah itu. Ia menjadi emosi dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia menunjukkan kepeduliannya sebagai istri kepada suami yang tak baik suasana hatinya. Malah diperlakukan demikian. Bicara sekali lalu tidak diacuhkan.

“Rooyyy!” pekiknya, “apa ini yang disebut komunikasi!” Ia lempar bantal sofa ketika Roy menutup pintu kamar.

“Semenjak bekerja di sana dan populer kamu mulai lupa semuanya. Bahkan ketika aku sengaja habiskan uang untuk belanja yang sesungguhnya barang tidak penting kamu pun tidak peduli. Kamu tahu, Roy, hidup itu tak boleh dihabiskan hanya dengan memberi komentar pada kehidupan orang lain!” sindir Gayatri dalam omelannya pada profesi Roy. Daripada ia semakin emosi, diambilnya tas yang berada di dekatnya dan bergegas membanting pintu dari luar. Terdengar ia menelepon seseorang untuk bertemu

***
Roy sudah berusaha menenangkan dirinya. Ia membiarkan istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Entah seperti apa kelanjutan rumah tangganya ia akan bicara baik-baik pada mertuanya. Namun sayang, satu hal yang ingin ia ubah belum bisa terwujud. Ia sudah berpikir masak untuk berhenti jadi penyiar berita dan memilih jadi wartawan biasa. Tapi produsernya menolak hal itu. Keputusan Roy dapat berdampak buruk bagi kelangsungan program berita yang selalu mendapat rating nomor satu itu, juga untuk Kontra17. Saluran yang khusus menyiarkan pemberitaan saja.

Roy semakin tertekan. Selepas menyiarkan berita secara agresif tapi penuh kepalsuan, ia segera menemui produsenya. Meski mendapat pertentangan dan perdebatan ia tak peduli. Ia hanya ingin kedamaaian. Dengan marah ia layangkan surat pengunduran diri dan bergegas meninggalkan gedung kantor. Ia ingin segera meminta maaf pada Gayatri, istrinya yang tengah terluka karenanya.

Namun, tak pernah ia sangka dalam hidupnya akan terjadi demikian, belum sempat ia membuka pintu mobil tiba-tiba muncul empat pria bertubuh besar yang dengan kasar memukul tengkuk dan wajahnya, membuat ia terlempar. Ia ingin berteriak meminta tolong tapi yang lain segera membekap mulutnya dengan sebuah penutup kepala hitam sementara satunya mengambil paksa kunci mobilnya. Tak ada siapa-siapa di garasi besar itu kecuali dia dan empat pria bertubuh raksasa. Ini memang belum jam pulang. Melawan pun ia tak berdaya. Ia diseret, beberapa kali kepalanya dipukul hingga ia tak sadarkan diri lagi. Ia sempat bertanya-tanya sendiri dalam kesakitannya, mungkinkah ini ancaman yang dimaksud itu? Tapi siapa?

***
Beberapa hari setelah itu, siaran berita di Kontra17 menjadi yang paling banyak ditonton. Bagaimana tidak, berita menghilangnya presenter berita ternama Hamdan Royenza tentu sangat penting untuk dipublikasikan. Tak hanya dari Kontra17, stasiun berita lain pun secara berjamaah mengekspos berita ini dengan sangat detail. Para penyaji berita, pejabat, selebriti, bahkan rakyat jelata beramai-ramai membicarakan kabar mengejutkan ini. Mereka berdiskusi, menganalisis, dan berandai-andai dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Semua yang mengenal Roy menjadi narasumber dan mendadak populer wara-wiri di layar kaca. Begitu pun dengan Gayatri, ia justru menjadi orang yang paling tidak mau diwawancarai. Ia menangis terus menerus. Hatinya penuh kecemasan dan rasa sesal yang membuncah. Seharusnya ia tak pernah meninggalkan Roy.

Sepekan berlalu Roy tak juga kembali. Tentu saja, bahkan tak pernah ada yang tahu kecuali kita yang membaca kisah ini bahwa Roy telah tewas ditembak mati oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Ia ada di suatu tempat, tubuhnya telah bersatu dengan alam. Tapi siapakah orang yang tega membunuh Roy? Apakah orang yang paling membencinya, ataukah rekan kerjanya sendiri di Kontra17?

***

CERPEN M.Z. BILLAL_Senja dalam Saku Kemeja

Bolehkah aku terus berandai? Gumamku dalam hati kepada senja yang membias oranye di balik bukit, menjadi latar belakang yang sangat i...

Translate